Showing posts with label Cerber. Show all posts
Showing posts with label Cerber. Show all posts

Sep 15, 2016

La Mar {Prolog}

La Mar {Prolog} - I cannot even imagine where I would be today were it not for that handful of friends who have given me a heart full of joy.* Kalau bukan karena sahabat-sahabat tengil yang selama ini selalu menemani, meski kadang dengan cara yang tidak normal, tidak mungkin klub ini bisa bertahan di bawah tekanan OSIS yang biadab itu selama dua tahun terakhir.

Klub drama pernah berada di titik dimana semua siswa bangga ketika ada yang membicarakannya. Tiap kali pertunjukkan digelar, tidak pernah satu kali pun tiketnya tidak laku. Penontonnya tidak hanya datang dari kalangan siswa SMA Budi Pekerti Luhur, tapi juga dari sekolah-sekolah lain yang dengan suka rela mengirimkan kontingennya untuk menikmati sajian drama berdurasi empat puluh menit.

La Mar {Prolog}
La Mar {Prolog}

Lain dulu, lain sekarang. Sejak insiden heboh yang menimpa klub drama tujuh tahun silam, klub ini bagai motor yang kehilangan mesin. Lumpuh. Apalagi karena insiden tersebut, beberapa orang harus rela keluar dari sekolah, termasuk Damar Alvian--sang legenda klub drama ini sendiri. Laki-laki itu menjabat sebagai ketua klub saat insiden itu terjadi. 

Aug 24, 2016

Unstoppable Love(?) Bagian Empat

Unstoppable Love(?) Bagian Empat - “Aku akan bertanya sekali lagi padamu.” Aku menjawab ragu-ragu. Sebelum bertanya lagi, Alex menatapku dengan tajam seolah-olah ia ingin menerkamku. Dadaku berdebar-debar, sepertinya jantungku ingin melompat keluar. Aku tahu apa yang akan ditanyakan Alex. Ia pasti akan bertanya tentang Jousef. (Jangan lupa baca juga: Unstoppable Love(?) Bagian Tiga)

Unstoppable Love(?) Bagian Empat 1
Unstoppable Love(?) Bagian Empat
“Apakah,” Alex terdengar ragu, “apakah pria yang kulihat kemarin adalah mantan kekasihmu?”

Apakah aku harus jujur padanya? Atau kubiarkan saja kesalahpaham ini? Aku juga ingin tahu bagaimana reaksinya kalau hubunganku dengan Jousef lebih dekat daripada sekadar mantan kekasih. Aku jadi ingat satu kejadian beberapa tahun lalu.

“Tapi, tapi,” Fin kelihatan panik, “aku kan hanya menggodanya. Aku hanya ingin tahu apakah dia benar-benar menyukaiku seperti yang dia katakan. Aku hanya ingin melihat apakah dia cemburu, itu saja.”

Aug 23, 2016

Unstoppable Love(?) Bagian Tiga

Unstoppable Love (?) Bagian Tiga - Beberapa bulan sejak Fin mengatakan bahwa ia mencintai laki-laki itu, ia menemuiku dan bercerita banyak hal tentang bagaimana ia sudah benar-benar hampir gila karena rasa bahagia yang sedang ia rasakan. 

Aku tahu sekali, Fin termasuk orang yang sensitif, ia mudah tersentuh dengan hal-hal dan kata-kata baik, dan ia tipe orang yang sulit sekali melupakan kebaikan orang lain. Ia sepertinya merasa sangat bahagia dapat mengenal Alambana sedikit demi sedikit sambil berjalannya waktu. Seolah setiap hal baru yang ia ketahui mengenai kekasihnya membuatnya semakin bahagia. 

Terlalu banyak cinta. Mungkin hal itu yang terjadi kepada Fin. 

Kebahagiaan Fin yang kulihat saat itu tidak bertahan lama. Suatu malam Fin menelponku. Awalnya ia mengingat-ingat dan menceritakan hal-hal lucu sampai aku hampir tersedak karena terlalu banyak tertawa, tapi kemudian ia menanyakan kabar semua teman-teman lama kami dan mengatakan kalau ia merindukan segala hal yang terjadi selama di SMA, sampai akhirnya tiba-tiba suara Fin terdengar serak dan sengau, hidungnya mulai tersumbat, dan detik berikutnya ia mulai menangis tersedu-sedan sampai hampir kehabisan nafas. 
Unstoppable Love (?) Bagian Dua (2)
Unstoppable Love (?) Bagian Dua (2)
Aku berusaha menenangkannya, tetapi mustahil tentu saja. Apa yang bisa membendung perasaan yang tulus, baik itu kebahagiaan atau kesedihan? Tidak ada. Fin tidak mengatakan apapun, ia hanya menangis dan terus menangis. Aku yang tidak paham, dan tidak berpengalaman, merasa bingung setengah mati menghadapinya. Pada akhirnya, aku malah ikut menangis bersamanya.

Aug 22, 2016

Unstoppable Love (?) Bagian Dua

Unstoppable Love (?) Bagian Dua - “Kenapa kau tidak mengajaknya?” tanyaku pada Fin ketika kami sampai di sebuah toko pakaian dalam, di mal yang ada di tengah kota. Ini adalah toko terakhir yang akan kami kunjungi untuk hari ini. Kulihat kedua tanganku, telah bergantung beberapa tas belanja dari toko sebelumnya. Kurasa, cukup untuk hari ini.

“Dia tidak akan suka pergi ke tempat seperti ini. Dia kan pemalu,” Fin melenggang ke counter lingeri. Setelah melihat-lihat sebentar, Fin meminta beberapa stel pakaian dalam yang bentuknya, menurutku, mengerikan. Apa? Sejak kapan selera Fin semakin kompleks seperti ini?

“Menurutmu, lebih terlihat bagus yang mana kalau kukenakan?” dua stel lingeri yang bentuknya serupa dengan warna yang berbeda menggantung di kedua tangannya. “Hitam? Merah?”

Unstoppable Love (?) Bagian Dua
Unstoppable Love (?) Bagian Dua
Aku berdecak sebal. Hitam dan merah adalah dua warna favoritnya. Meskipun aku ngotot mengatakan bahwa hitam akan terlihat lebih menarik, dia akan berargumen bahwa merah akan lebih seksi. Aku hapal betul dengan tabiatnya satu ini. “Kau tidak akan memilih, ambil saja keduanya.”

Fin menarik lebar bibirnya yang memperlihatkan gigi gingsul kanannya lalu pergi ke kasir untuk melakukan pembayaran dengan langkah riang. Kalau tidak kuingatkan, hampir saja ia melompat-lompat seperti anak kecil yang mendapatkan setoples cokelat secara cuma-cuma.

Jam dinding menunjukkan pukul tujuh tiga puluh ketika aku sampai di rumah. Seperti biasa, adik laki-lakiku pasti sedang bersama teman-teman sekolahnya di lantai atas. Mereka biasa membuat kegaduhan dengan menghidupkan petasan di atap rumah meskipun sudah berulang kali kularang.

Unstopable Love(?) Bagian Satu

Unstoppable Love(?) Bagian Satu - Inisiatif ini begitu sulit sekali direalisasikan. Padahal keinginan ini sudah terpikirkan sejak pertama kali kubaca puisi buatan Fin ketika kami masih SMA. Fin suka sekali menulis, ia menulis hampir semua hal dalam hidupnya di buku harian. 
Unstoppable Love(?) Bagian Satu
Unstoppable Love(?) Bagian Satu
Dua minggu lalu, ketika aku mampir ke rumahnya, aku membuka lemari buku di kamarnya. Selain novel-novel yang sudah pernah kubaca, kulihat banyak sekali buku-buku bersampul cantik di dalamnya. Buku-buku itu sudah berada di sana untuk waktu yang lama dan semakin hari semakin bertambah. Ketika kuberanikan diri untuk bertanya mengenai buku-buku itu, Fin dengan antusias mengambil satu yang paling kecil dan paling terlihat tua kemudian menunjukkan isinya padaku. 

“Ingat kejadian ini tidak?” tanya Fin menunjuk sebuah gambar di bagian tengah buku hariannya. Sebuah komik strip yang berantakan, tetapi saat melihatnya otakku segera menayangkan ulang kejadian itu—aku dengan sengaja menginjak kotoran sapi karena mengiranya sampah plastik—dan pada detik berikutnya kami berdua terbahak-bahak. 

“Aku sering tertawa sendiri membaca ulang semua buku harian ini,” Fin mengembalikan buku itu ke tempatnya semula.

“Kau pasti menulis banyak hal tentangku, kan?” cibirku mengingat banyak hal menarik yang telah kami lalui bersama selama enam belas tahun persahabatan kami.

“Pastinya, dan semua tentangmu benar-benar bisa menghiburku,” Fin tertawa lagi. “Sesekali cobalah menulis, tentang apa saja, siapa saja, bahkan hal remeh sekalipun. Kelak kau akan tertawa atau bahkan menangis sendiri ketika membacanya.”

Ekspresi cerah Fin ketika mengatakannya terus terngiang-ngiang dalam kepalaku selama perjalanan pulang. Keinginan lama terpendamku semakin menggebu-gebu. Kupikir aku bisa mencobanya, tapi menulis nyatanya bukan hal yang mudah. Setengah jam aku duduk dan memikirkan banyak hal, tapi tidak satu pun kata yang kutulis dalam buku di hadapanku.